Friday, February 7, 2014

Makalah Bilingualisme dan Diglosia


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Fenomena bilingualisme dan diglosia itu merupakan itu merupakan pokok kajian yang menarik, bukan saja karena aspek teorinya, melainkan juga aspek aplikasinya dalam kenyataan penggunaan bahasa. Contoh-contoh konkrit dapat anda temukan dalam kehidupan anda sehari-hari. Masing-masing fenomena bilingualisme dan diglosia akan dibahas dari segi hakikat atau acuan konseptual dan dari segi profilnya. Bilingualism dan diglosia adalah pokok yang sangat berhubungan, kadang-kadang ada tumpang tindih jika terhadap dua fenomena ini.
Dilihat dari jumlah yang digunakan dalam masyarakat bahasa, ada masyarakat bahasa yang menggunakan satu bahasa atau lebih. Masyarakat bahasa yang menggunakan satu bahasa dan ada yang menggunakan bahasa yang dua atau lebih. Masyarakat bahasa yang menggunakan satu bahasa disebut monolingual dan masyarakat bahasa yang menggunakan dua bahasa atau labih disebut biligualisme. Menurut Ferguosa, diglosiaadalah fenomena penggunaan ragam bahasa yang dipilih sesuai dengan fungsinya. Diglosia dalam masyarakat bahasa yang memiliki satu bahasa dengan dua ragam(tinggi dan rendah) yang memiliki peranya masing-masing.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana hakikat bilingualisme?
2.      Bagaimana  hakikat diglosia?
3.      Bagaimana hubungan bilingualisme dan diglosia


1.3  Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui bagaimana hakikat biligualisme
2.      Untuk mengetahui bagaimana hakikat diglosia
3.      Untuk mengetahui bagaimana hubungan bilingualism dan diglosia

1.4  Manfaat Penulisan
1.      Mengetahui bagaimana hakikat bilingualisme
2.      Mengetahui bagaimana hakikat diglosia
3.      Mengetahui bagaimana hubungan bilingualisme dan diglosia



















BAB  II
PEMBAHASAN


1.1  Hakikat Bilingualisme
Masyarakat bahasa adalah masyarakat yang menggunakan satu bahasa yang disepakati sebagai alat komunikasinya. Dilihat dari bahasa yang digunakan dalam suatu masyarakat bahasa, masyarakat bahasa yang menggunakan satu bahasa da nada masyarakat yang menggunakan dua bahasa atau lebih. Masyarakat bahasa yang menggunakan satu bahasa disebut masyarakat monolingual. Sedangkan masyarakat bahasa yang menggunakan dua bahasa atau lebih disebut masyarakat bilingual.
Diera maju dan modern ini barangkali jarang ditemukan masyarakat bahaasa monolingual. Akan tetapi, mungkin masih ada ditemukan misalnya, daerah-daerah terpencil. Ada juga kemungkinan masyarakat generasi lama yang karena satu dan lain hal tidak memiliki kesempatan belajar bahasa lain selain bahasa daerahnya. Setelah menjadi generasi tua, mereka menjadi masyarakat monolingual. Namun dalam kehidupan sehari-hari, ada pula masyarakat bilingual. Setidaknya masyarakat yang menggunakan bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Misalnya, masyarakat yang menggunakan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia, bahasa Banjar dengan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.
Istilah bilingualisme (Inggris:bilingualism) dalam bahasa indonesia disebut juga kedwibahasaan. Dari istilah secara harfiah sudah dapat dipahami apa yang dimaksud dengan bilingualisme itu, yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Secara secara sosiolinguitik secara umum , bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa atau lebih seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian(Mackey 1962:12, Fishman 1975:73). Untuk dapat menggunakan dua bahasa tentunya seseorang harus menguasai dua bahasa itu. Pertama, bahasa itu sendiri atau bahasa pertamanya(B1) dan bahasa yang kedua (B2). Orang yang menggunakan bahasa kedua tersebut disebut orang yang bilingual(kedwibahasaan). Sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut bilingualitas. Selain istilah bilingualisme juga digunakan istilah multibilingualisme yakni keadaan yang digunakan lebih dari dua bahasa oleh seseorang dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian.
Pemilihan bahasa dalam bilingualisme ditentukan oleh unsur-unsur yang menjadi pertimbangan oleh penutur antara lain:
Ø  Bahasa yang digunakan
Ø  Ranah (domain) penggunaan
Ø  Mitra tutur
Dalam kaitan tersebut bilingualism akan menjawab pertanyaan tersebut:
Ø  Bahasa apa yang digunakan orang
Ø  Ranah apa bahasa itu digunakan
Ø  Kepada siapa bahasa itu digunakan

Konsep umum bahwa bilingualisme adalah digunakannya dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian akan menimbulkan sejumlah masalah, masalah tersebut yang biasa dibahasa kalau yang membicarakan bilingualism. Masalah-masalah tersebut ialah sebagai berikut (lihat Dittmar 1976:170):
1.      Sejauhmana taraf kemampuan seseorang akan B2(B1 tentunya dapat dikuasi dengan baik) sehingga dia dapat disebut sebagai seorang yang bilingual?
2.      Apa yang dimaksud dengan bahasa dalam bilingualisme?
Apakah bahasa dalam pengertian langue, atau sebuah kode, sehingga bisa termasuk sebuah dialek atau sosiolek
3.      Kapan seorang bilingual menggunakan kedua bahasa itu secara bergantian? Kapan dia bisa harus menggunakan B1-nya, dan kapan pula harus menggunakan B2-nya? Kapan pula dia dapat menggunakannya B1-nya atau B2-nya?
4.      Sejauh mana B1-nya dapat mempengaruhinya B2-nya, atau sebaliknya B2-nya dapat mempengaruhi B1-nya
5.      Apakah bilingualisme itu berlaku pada perseorangan atau juga berlaku pada suatu kelompok masyarakat tutur?

Berdasarkan kemampuan penutur dalam menggunakan bahasa diperoleh dua tipe bilingualisme yaitu:
1.      Bilingualisme setara(coordinate bilingualism) adalah bilingualisme yang terjadi pada penutur yang memiliki penguasaan secara relatif sama. Dalam bilingualisme demikian, ada proses berpikir yang konstan(tidak mengalami kerancuan) pada bahasayang dikuasi dan sedang digunakan.
2.      Bilingualisme majemuk(compound bilingualism) adalah bilingualisme yang terjadi pada penutur yang mengalami proses berpikir pada seorang bilingual yang bersifat rancu atau kacau dan menggunakan bahasa yang tidak sama.
1.2 Hakikat Diglosia
            Kata diglosia berasal dari bahasa Prancis diglossie. Dalam pandangan Ferguson menggunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu masyarakat di mana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing mempunyai peranana tertentu. Jadi menurut Ferguson diglosia ialah suatu situasi kebahasaan relatif stabil, di mana selain terdapat jumlah dialek-dialek utama dari suatu bahasa terdapat juga ragam bahasa yang lain. Ada Sembilan topik yang dibicarakan Ferguson dalam diglosia yaitu:
1.      Fungsi
2.      Prestise
3.      Warisan sastra
4.      Pemerolehan
5.      Standarisasi
6.      Stabilitas
7.      Gramatika
8.      Leksikologi
9.      Fonologi
Fenomena diglosia dapat ditemukan pada masyarakat yang bilingual. Di negara lain, Ferguson menemukan koeksintesi antara varian bahasa tinggi dan varian bahasa rendah pada bahasa Arab. Varian bahasa Arab tinggi adalah bahasa Arab klasik dan varian bahasa rendah adalah varian dialekta. Menurut Ferguson varian bahasa tinggi antara lain digunakan dalam khotbah di masjid dan gereja, pidato di parlemen, pidato politik, kuliah di universitas, siaran berita, editorial surat kabar dan puisi. Varian bahasa rendah digunakan dalam sastra rakyat, sandiwara radio, suarat pribadi, pembicara antara teman ataupun keluarga.
Di Indonesia situasi diglosia dapat dilihat dari dua situasi yaitu (1) situasi pilihan bahasa yaitu antara pilihan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. (2) situasi penggunaan varian bahasa yaitu situasi yang dikenakan pada pilihan ragam dalam bahasa Indonesia yakni ragam baku dan tidak baku. Tampanya di Indonesia dalam kehidupan sehari-hari anatara bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing memiliki kedudukan tinggi dan rendahnya sesuai dengan situasinya. Dalam situasi resmi personal bahasa tinggi jatuh kepada bahasa Indonesia,. Kemudian dalam penggunaan ragam baku dan tidak baku tampak ragam baku merupakan ragam tinggi dan ragam tidak baku merupakan ragam rendah.
Menurut Kridalaksana(1976) ragam baku sebagai ragam tinggi digunakan dalam:
1.      Komunikasi resmi
2.      Wacana teknis
3.      Pembicaraan di depan umum
4.      Pembicaraan dengan orang yang dihormati
Sedangkan dalam ragam tidak baku sebagai ragam rendah digunakan dalam:
1.      Tawar-menawar di toko
2.      Ceramah dalam suasana tidak resmi
3.      Percakapan dengan sejawat
4.      Percakapan dengan anggota keluarga

1.3 Hubungan Bilingualisme dan Diglosia
            Fenomena bilingualisme adalah fenomena pemilihan bahasa di antara dua bahasa atau lebih. Sedangkan fenomena diglosia adalah fenomena pemilihan bahasa tinggi dan rendah atau ragam bahasa tinggi dan ragam bahasa rendah.
Hubungan antara bilingualisme dan diglosia dapat dilihat dilihat dari table dibawah ini:
               Diglosia
Bilingualisme

+

-

+
Diglosia dan Bilingualisme
Bilingualisme tanpa Diglosia

-
Diglosia tanpa Bilingualisme
Tanpa diglosia
Tanpa bilingualisme

Dari table di atas ada empat hubungan antara bilingualism dan diglosia adalah sebagai berikut :
1.      Tipe diglosia dan bilingualisme. Pada tipe ini dua penggunaan bahasa terjadi. Ada kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih da nada kebiasaan menggunakan bahasa tinggi dan bahasa rendah.
2.      Tipe bilingualisme tanpa diglosia. Pada tipe ini masyarakat bilingual, tetapi mereka tidak membatasi fungsi tertentu bagi bahasa dan varian yang dikuasainya.tipe kedua ini menampakkan kenyataan bilingualisme adalah karateristik kemampuan penggunaan bahasa yang individual, sedangkan diglosia adalah krakteristik alokasi fungsi pada bahasa-bahasa atau varian-varian yang berbeda.
3.      Tipe diglosia tanpa bilingualisme. Di dalam tipe ini terdapat dua kelompok penutur yaitu kelompok yang biasanya lebih kecilatau disebut dengan ruling group hanya berbahasa dalam dialek tinggi, dan kelompok yang tidak memiliki kekuasaan dalam masyarakat hanya berbicara dialek rendah. Banyangkan ada masyarakat bahasa yang menggunakan dua bahasa atau lebih, tetapi mereka tidak berinteraksi dengan bahasa tertentu pilihan bersama. Mereka dipersatukan secara politis, religious, dan secar ekonomis.

4.      Tipe tanpa diglosia dan tanpa bilingualisme. Tipe ini masyarakat yang tanpa diglosia dan tidak bilingualisme tentunya hanya ada satu bahasa dan tanpa variasi serta dapat digunakan untuk segala macam tujuan . keadaan ini hanya mungkin terdapat dalam masyarakat primitif  atau terpencil, yang pada saat ini sukar ditemukan.
Dari keempat pola masyarakat kebahasaan di atas yang paling stabil hanya dua, yaitu (1) diglosia dengan bilingualisme, dan (2) diglosia tanpa bilingualisme. Keduanya berkarakter diglosia, sehingga perbedaannya hanya terlerak pada bilingualismenya.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
      Bilingualisme adalah kebiasaan penggunaan dua bahasa atau lebih dalam masyarakat bahasa.  Berdasarkan kemampuan penuturnya bilingualisme dapat dibagi atas dua kategori yakni: Bilingualisme setara(coordinate bilingualism) adalah bilingualisme yang terjadi pada penutur yang memiliki penguasaan secara relatif sama. Dalam bilingualisme demikian, ada proses berpikir yang konstan(tidak mengalami kerancuan) pada bahasayang dikuasi dan sedang digunakan. Dan bilingualisme majemuk(compound bilingualism) adalah bilingualisme yang terjadi pada penutur yang mengalami proses berpikir pada seorang bilingual yang bersifat rancu atau kacau dan menggunakan bahasa yang tidak sama.
Diglosia adalah fenomena penggunaan bahasa yang dipertimbangkan pada fungsinya. Diglosia terjadi baik pada masyarakat monolingual maupun bilingual. Pada masyarakat monolingual diglosia adalah penggunaan ragam bahasa sesuai dengan pertimbangan fungsi setiap ragam. Sedangkan diglosia dalam masyarakat bilinguall adalah penggunaan tidak hanya pada penggunaan ragam, tetapi juga penggunaan bahasa sesuai dengan fungsinya.
Hubungan antara bilingualisme dan diglosia terletak pada titik temu dan titik pisah. Hubungan titik temu berupa beradanya atau tidak beradanya bilingualism dan diglosia. Sedangkan hubungan titik pisah berdasarkan beradanya salah satu fenomena atau tidak adanya salah satu fenomena. Ada empat tipe hubungan bilingualisme dan diglosia yaitu : (1) diglosia dan bilingualisme, (2) tipe bilingualisme tanpa diglosia, (3) tipe diglosia tanpa bilingualisme , dan (4) tipe tanpa diglosia dan tanpa bilingualisme.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul dan Agustina,Leonie. 2010. Sosiolinguistik Perkenalasan Awal.
Jakarta:Rineka Cipta
Ibrahim, Dr.Abdul Syukur dan Suparno,Dr.H. 2003. Sosiolinguistik. Jakarta:Pusat
Penerbitan Universitas Terbuka.

ISI PROPOSAL BEASISWA KABUPATEN


            Pekanbaru, 10 Oktober 2013
No                   : Istimewa                                                      
Lampiran       : 1 ( satu) berkas
Hal                  : Permohonan Bantuan Dana Pendidikan S.1

Kepada Yth,
BAPAK  BUPATI  KARIMUN
DI_
              TEMPAT
                 
Asalamu’ alaikum Wr.Wb

Dengan Hormat,
              Teriring salam dan Do’a saya ucapkan Kepada Bapak semoga dalam keadaan sehat wal’afiat dan sukses dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
              Sehubungan dengan adanya bantuan dana pendidikan strata satu(S1) dari  Pemerintah Daerah Kabupaten Karimun untuk mahasiswa/mahasiswi yang kuliah di perguruan tinggi atau Universitas-universitas yang ada di Riau, maka saya yang bertanda tangan dibawah ini :

              Nama                       : Desmawati
              NIM                         : 116210292
        Tempat / Tgl Lahir : Meral Karimun, 18 Desember 1993
        Jenis Kelamin          : Perempuan
        Nama Universitas    : Universitas Islam Riau ( UIR)
Fakultas                   : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Jurusan/Semester    :Bahasa dan Seni Pendidikan Bahasa Indonesia \ V
Program                  : Strata Satu (SI)
Alamat                     : JL. Air Dingin Gg Taqwa 5 Kelurahan Simpang
                                    Tiga               
                                    Kecamatan Bukit Raya Marpoyan Pekanbaru

              Dengan ini saya mengajukan permohonan bantuan Beasiswa Kepada Bapak Bupati Karimun untuk dapat kiranya membantu saya memperoleh fasilitas Dana bantuan pendidikan untuk menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) di Universitas Islam Riau Pekanbaru. Sebagai bahan pertimbangan bagi Bapak, Saya lampirkan :
1.      Foto Copy Kartu keluarga (KK);
2.      Foto Copy kartu Tanda Penduduk  (KTP ) orang tua;
3.      Foto Copy Kartu Tanda Penduduk ( KTP);
4.      Foto Copy Kartu Tanda Mahasiswa (KTM);
5.      Foto Copy Hasil Studi (KHS);
6.      Foto Copy Bukti Pembayaran Kuliah Terakhir;
7.      Foto Copy Akta Kelahiran;
8.      Surat Keterangan Aktif kuliah;
9.      Surat Kematian Orang Tua;
10.  Perincian Biaya Kuliah Pertahun;

              Demikianlah permohonan ini saya ajukan kepada Bapak, besar harapan saya untuk terkabulkan permohonan ini. Atas bantuan dan perhatian Bapak, Saya ucapkan terima kasih.
     
Wasalamu’alaikum Wr.Wb

                                                                                           Pekanbaru, 10 Oktober 2013
                                                                                                          Hormat Saya,
                                                                                             Pemohon






                                                                                              DESMAWATI
                                                                                              116210292


















PROPOSAL
BANTUAN DANA PENDIDIKAN STRATA SATU (S1)

A.Latar belakang

Dalam era otonomi daerah dewasa ini dibutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal yang dapat mengisi pembangunan didaerah khususnya di Kepulauan Riau. Untuk itu sudah sepantasnya Pemerintah Daerah Kabupaten Karimun memperhatikan perkembangan SDM sebagai aset daerah dalam melaksanakan pendidikan di Perguruan Tinggi sehingga pada akhirnya akan menjadi SDM yang handal dan pada gilirannya akan mendarma bhaktikan ilmu yang telah di dapat di perguruan tinggi untuk pembangunan didaerah khususnya di Kabupaten Karimun.
Ilmu merupakan kebutuhan manusia yang hakiki untuk dimiliki oleh setiap manusia dalam menghadapi era yang penuh dengan tantangan hidup. Namun tidak semua manusia dapat mengecap ilmu khususnya ilmu ditingkat Perguruan Tinggi, hal tersebut tidak lain karena beberapa faktor antara lain faktor biaya, dimana untuk mengecap pendidikan di Perguruan Tinggi membutuhkan dana yang cukup besar, untuk itu pemohon yang sedang mengecap ilmu di Universitas Islam Riau Pekanbaru memberanikan diri untuk mengajukan proposal bantuan dana pendidikan strata satu (S1).
B.  Maksud dan Tujuan
  1. Maksud
Adapun maksud dari pengajuan proposal ini adalah mendapatkan dana bantuan perkuliahan saya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau.

  1. Tujuan
    1. Untuk menciptakan SDM yang handal serta dapat mendarma baktikan ilmu yang didapat kepada masyarakat, bangsa dan Negara.
    2. Untuk dapat mengikuti perkuliahan dengan baik dan dapat menyelesaikan studi Strata Satu (S1) sesuai dengan waktu yang telah direncanakan.
    3. Serta dapat meringankan beban Orang Tua dalam membiayai dalam perkuliahan.

C. Nama Pemohon
            Adapun nama pemohon yang mengajukan Proposal Bantuan Dana Beasiswa  yaitu :
              Nama                       : Desmawati
              NIM                         : 116210292
        Tempat / Tgl Lahir : Meral Karimun, 18 Desember 1993
        Jenis Kelamin          : Perempuan
        Nama Universitas    : Universitas Islam Riau ( UIR)
Fakultas                   : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Jurusan/Semester    :Bahasa dan Seni Pendidikan Bahasa Indonesia \ V
Program                  : Strata Satu (SI)
Alamat                     : JL. Air Dingin Gg Taqwa 5 Kelurahan Simpang
                                    Tiga                   
                                    Kecamatan Bukit Raya Marpoyan Pekanbaru

D. Anggaran Biaya Yang dibutuhkan
            Adapun rincian anggaran biaya yang dibutuhkan sebagaimana terlampir.
E. Penutup
            Demikianlah proposal ini diajukan dengan harapan semoga permohonan pemohon melalui proposal ini dapat dikabulkan sepenuhnya. Atas perhatian Bapak berikan saya ucapkan banyak terima kasih.                                                                 

 Pekanbaru, 10 Oktober 2013
                                                                                                                  Hormat Saya,


 Desmawati 
 116210292




PERINCIAN BIAYA PENDIDIKAN

No
Kebutuhan
Jumlah
1
Uang Kuliah Selama 2 tahun
SPP 4 Semester
Uang SKS 4 Semester
Uang Buku + Foto Copy

Rp. 4.000.000
Rp. 3.480.000
Rp. 1.800.000
2
Uang makan 1bln Rp 500.000 @ 12
Rp. 6.000.000
3
Uang Transportasi Rp. 150.000 @ 12
Rp. 1.800.000

Jumlah
Rp.17.080.000


Terbilang: Tujuh Belas Juta Delapan Puluh Ribu Rupiah



                                                                                                               
                                                                                                            Hormat Saya,

                                   
                                                                                               Desmawati
                                                                                                                   116210292